| Syamsul: "Perlu Mengalah Untuk Ummat" |
|
|
|
| Oleh Machendra |
| Kamis, 06 Desember 2007 00:00 |
|
Yogyakarta- Sudah saatnya NU dan Muhammadiyah mengalah untuk ummat, sehingga harus ada kesepakatan bersama agar ummat tidak lagi bingung akibat keputusan yang dihasilkan, perlu ada penyatuan kalender Hijriyah yang dapat jadi pedoman seluruh ummat Islam dunia, demikian disampaikan Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) muhammadiyah Syamsul Anwar, di sesi akhir acara Pertemuan Pembahasan Awal Bulan Qomariyah PP Muhammadiyah dan PB Nahdlatul Ulama di Gedung PP Muhammadiyah jln Cik Di Tiro, Yogyakarta, Kamis (06/12/2007). Syamsul mengungkapkan, sangat penting untuk mempunyai Kalender bersama yang berlaku secara Internasional, “Ummat Islam telah sekitar 14 abad eksis di dunia, tetapi sampai setua itu tidak pernah mempunyai kesamaan Kalender yang diterapkan secara Internasional, untuk itu sudah saatnya kini kita memikirkan ummat secara keseluruhan dengan membikin Kalender Bersama yang berlaku secara Internasional,” ungkapnya. Lebih lanjut menurut Syamsul, dalam penentuan metode untuk menyusul Kalender bersama memang paling mudah menggunakan metode hisab, karena apabila menggunakan rukyat, harus menunggu dalam melihat hilal satu hari atau dua hari sebelum hari H. Tetapi menurut Syamsul, perlu dipelajari lagi untuk mendekatkan metode hisab dan rukyat, sehingga mungkin ada jalan kompromi di dalamnya. Sedangkan dari pihak NU melalui Slamet Hambali mengatakan, sudah bukan saatnya lagi NU dan Muhammadiyah bertahan pada argumentasinya masing-masing, menurutnya apabila semuanya bertahan pada argumentasi masing-masing, maka tidak akan pernah ketemu pada satu jalan, “Pada dasarnya NU juga menerima perubahan, inni hal yang cukup menarik, walaupun belum satu kata,” ungkapnya. Menurut Symsul Anwar, pada pertemuan ini disepakati untuk mengadakan pertemuan lanjutan yang akan lebih dalam mengulas masalah penyatuan Kalender yang rencananya diadakan di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta. “Dengan pertemuan ini dan selanjutnya saya harap dapat lebih dalam membahas metode, dan tentu saja di sisi lain mungkin juga membahas masalah-masalah lain, sehingga dengan demikian isu tentang NU dan Muhammadiyah yang tidak bisa bertemu tidak diperdebatkan lagi,” terangnya. (mac)
Arsip : www.muhammadiyah.or.id |