Susiknan : "Depag Jangan Ngotot" PDF Cetak E-mail
Oleh Machendra   
Rabu, 03 Oktober 2007 00:00

Jakarta- Metodologi penetapan hari raya Idul Fitri dengan menggunakan metode Imkanur Ru’yat yang dipakai oleh Departemen Agama (Depag) dan Ormas Islam lain diharapkan tidak terlalu dipaksakan, apabila mengacu pada Mabim yang menentukan batas ketinggian Hilal dua derajat maka akan banyak kelemahan yang muncul, demikian disampaikan wakil sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Susiknan Azhari pada muhammadiyah.or.id, seusai pertemuan dengan PBNU di Gedung PBNU jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Selasa (02/10/2007).

Dalam pertemuan di kantor PBNU kemarin, Susiknan mengungkapkan bahwa dalam penerapannya, metode Imkanur Ru’yat dengan batas dua derajat dan delapan jam seperti yang mengacu pada Mabim, ternyata tidak terbukti pada bulan Robiul Awal dan Sya’ban tahun ini. “Tidak ada laporan Hilal terlihat dengan ketinggian dua derajat, pada bulan Robiul awal dan Sya’ban tahun ini, artinya memang ada kesalahan dalam hal epistimologinya, dan sebenarnya bisa saja Hilal diakui terlihat sehingga inilah beratnya mengunakan metode (Ruk’yat) ini,” ungkap Siknan. Lebih lanjut menurut Siknan, metode yang dipakai Depag pernah disinggung dalam Musyawarah Ahli Hisab dan Ulama tahun 1998 di Cisarua Bogor, yang memberikan banyak catatan untuk segera meneliti kembali metode tersebut.  

Pada berita sebelumnya ahli Falak Muhammadiyah yang juga wakil ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Oman Faturahman juga mengungkapkan, tidak ada jaminan bahwa Hilal akan terlihat pada posisi dua derajat seperti yang direkomendasikan Mabim, dan menjadi perdebatan sendiri oleh para ahli Astronomi mengenai hal tersebut. Muhammadiyah menurutnya, mencoba menggunakan hal yang aman yaitu pada batas enol derajat, artinya apabila Bulan sudah masuk pada Ijtimak (0 derajat) maka artinya setelah hal tersebut terjadi merupakan awal dari Bulan baru. (mac)

Arsip : www.muhammadiyah.or.id 

 
CURRENT MOON