| Adakah kekeliruan manusiawi dalam melaksanakan rukyah? |
|
|
|
|
Dibandingkan dengan hisab, potensi terjadinya kekeliruan subjektif sebenarnya lebih besar pada rukyah. Sebabnya, "melihat" adalah gabungan proses fisis (optis) dan kejiwaan (psikis). Secara keseluruhan, proses "melihat" adalah sebagai berikut: Mata yang akan melihat suatu benda, dihadapkan kepada benda tersebut. Cahaya yang datang dari benda, mula-mula memasuki lensa mata. Oleh lensa mata --ditambah dengan kaca mata bila diperlukan-- cahaya benda tersebut diarahkan sehingga mengumpul membentuk gambaran (citra) benda tadi. Citra benda bentuknya persis dengan bendanya, hanya terbalik dan lebih kecil. Citra benda tersebut diimpitkan oleh lensa mata pada selaput jala (retina). Cahaya yang mengumpul pada citra benda kemudian diubah menjadi isyarat listrik pada simpul syaraf dan dialirkan ke otak melalui urat syaraf. Ini adalah proses jasmaniah (fisik). Berdasarkan pengetahuan atau pengenalan sebelumnya tentang bentuk, warna benda dan lain lain, maka otak manusia melakukan proses pencerapan (persepsi, perception) sehingga menyimpulkan: pertama bahwa ia telah melihat "sesuatu", dan kedua, bahwa sesuatu itu adalah benda tertentu yang sudah atau belum dikenalinya. Proses kedua ini termasuk proses psikis, tepatnya proses mental. Di dalam aktivitas melihat terdapat dua tahap, yaitu proses jasmani dan proses psikis. Yang dominan adalah proses psikis. Sekalipun ada benda, citra benda di selaput jala, dan isyarat listrik yang menyusuri urat syaraf menuju otak, seseorang tidak akan melihat apa pun jika otaknya tidak siap, misalnya karena melamun. Jadi, dalam hal ini, proses psikis tidak terjadi, sehingga proses melihat tidak terjadi pula. Sebaliknya, walaupun proses fisis tidak ada --misalnya bendanya tidak ada sehingga tidak ada citra benda, tidak ada isyarat optik maupun listrik-- namun jika proses mentalnya hadir, maka ia "merasa" dan kemudian "mengaku" melihat. Dalam ilmu psikologi, proses ini dikenal dengan istilah "halusinasi. Halusinasi bisa disebabkan oleh faktor fisis, misalnya karena pengaruh obat tidur, obat bius, dan obat perangsang. Dapat juga oieh sebab kejiwaan, misalnya karena ingin sekali berjumpa atau sangat rindu pada benda yang akan "dilihat" atau merasa yakin bahwa bendanya pasti ada. Misalnya, seorang ibu yang sudah bertahun-tahun berpisah dengan anaknya dan sangat merindukannya, merasa melihat anaknya lewat sekelebat dengan mobil. Si ibu sangat yakin bahwa ia melihat anaknya, padahal yang dilihatnya adalah seorang pemuda yang mirip anaknya. Jadi, dalam proses melihat, yang paling dominan adalah proses kejiwaan, sedangkan ada atau tidaknya benda yang dilihat tidak penting. Yang penting adalah kesiapan maupun "perasaan siap" untuk melihat. Jika terhadap benda yang "besar" seperti manusia, gunung, atau gedung manusia bisa salah lihat, apalagi terhadap hilal yang seratus kali lebih kecil, lagi pula redup. Apalagi kondisi ketika melakukan rukyah itu sangat menyulitkan. |